Pernah
Ditipu Supplier Baju Dari Batam:
Ciri
Penipu Yang Harus Kamu Ketahui
Sejak kapan kamu tau kalo bisnis reseller itu cukup
menggiurkan?
Ya, aku tau bisnis reseller itu
sejak aku duduk di bangku SMA kelas 1. Saat aku baru mulai mengenal social
media, bernama Facebook dan Instagram.
Facebook adalah platform social media
pertamaku saat itu. Aku mulai bikin akun dengan nama yang super alay seperti
menambahkan beberapa kata Imoet, Akoe Si Imoet, Cantik Celalu. Aneh bukan,
kalau kata-kata itu menjadi username di Facebook. Tapi, ya begitulah pada
masanya heboh dimana orang-orang banyak membuat akun Facebook dengan sepanjang
dan seaneh mungkin supaya beda dari akun-akun yang lain.
Instagram. Sepertinya aku ingat kalau
Instagram ini adalah platform social media keduaku yang ku buat untuk ajang
pamer foto. Kamu harus tau kalo aku sempet dimarahin dan enggak dibolehin bikin
akun Instagram sama kakak sepupu aku lhoo, Cuma alas an kalo Instagram itu Cuma
tempat ajang pamer foto diri sendiri. Padahal masa itu juga spec kamera juga
belum terlalu bagus, mana kepikiran buat pamer-pamer foto. Posting aja jarang
banget haha..
Kalau diinget-inget tahunnya, itu sekitar tahun 2014
deh kayaknya. Wow, bahkan aku bikin blog dan posting pertama kali juga di tahun
2014. Time flies so fast.
Back to Facebook, di sana aku banyak nemuin
temen-temen aku ketimbang di Instagram. Karena banyak yang merasa bahwa
Facebook jauh lebih mudah digunakan daripada Instagram. Facebook juga bisa
membuat grup yang berisi lebih dari 30 orang dan membahas topik tertentu untuk
saling berbagi cerita.
Kalau Instagram, aku bahkan menemukan banyak
akun-akun bisnis yang menjual banyak barang dan kebutuhan primer, dari sembako,
jual beli rumah, baju, makanan, dan minuman. Meskipun di Facebook juga banyak
yang posting barang dagangan, tetapi aku merasa lebih suka visualisasi di
Instagram.
Instagram memberikan penataan
gambar yang teratur dan mudah dilihat disbanding dengan Facebook yang
menyajikan lebih banyak tulisan daripada hanya focus pada gambar. Meski
terlihat hanya hambar produk, tetapi Instagram menyajikan ruang caption di
bawah gambr yang bisa dilihat oleh orang-orang yang ingin mengetahui tentang
produk itu.
Lalu, gimana ceritanya bisa kena tipu pas join
Reseller Baju?
Ini cerita yang menarik sih buat
aku. Aku enggak tau yang Namanya jualan dan menghasilkan uang di saat aku baru
masuk jadi anak SMA. Yang aku pikirin itu Cuma gimana caranya aku bisa punya
baju bagus, tapi bisa dapet uang juga. Kalo bikin baju enggak mungkin, aku
enggak jago jahit menjahit apalagi membuat pola-pola dress cantik buat pakaian
Wanita.
Sementara aku sekolah, aku punya
tanggungjawab utama untuk belajar dan mendapatkan nilai yang bagus agar aku
bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Aku tidak bisa begitu aja berada di
tempat yang nyaman cuma mikirin berangkat sekolah, belajar, pulang, dan
berulang lagi. Aku kepo sama orang-orang yang bisa pakai baju bagus, tapi uang
saku tetap aman jaya dan bisa makan enak. Aku juga kepikiran gimana caranya
para orang tua ku dan teman-temanku itu bisa selalu punya uang untuk kasih uang
saku harian ke anak-anaknya.
Darimana uang mereka berasal? Gimana
caranya biar bisa punya sendiri tanpa harus minta pas aku lahgi kekurangan atau
pas lagi kepengen beli satu baju yang emang aku suka banget pas liat baju itu.
Enggak butuh baju banyaterk, kadang aku Cuma pengen beli satu baju itu aja.
Nah, terus pas aku coba
scroll-scroll Instagram, cari dari berbagai kata kunci tentang baju, aku nemu
banyak akun bisnis yang menjual baju-baju lucu, dress cantik yang rasanya
pengen banget aku pakai baju itu. Seriusan deh kayak yang mikirnya di pusat
grosir baju enggak ada nih, di mall kayaknya aku jarang banget nemu baju-baju
dress semacam tunik dan baju pesta juga outer rajutan di mall-mall sekitar
daerah tempat tinggalku.
Bisa kebayang kan masih bocah
terus pengen bisa dress-up karena foto-foto model baju yang ada di Instagram.
Setelah scrolling cukup lama, akhirnya aku nemu 2-3
akun yang memang menjual pakaian cukup banyak, likes dan followersnya pun
banyak. Testimoni hasil penjualan juga banyak dan menurut aku cukup membuktikan
kalau barang yang dijual itu real dan dapat dipercaya.
Ternyata
itu salah teman-teman!
Salah banget deh pilih di supplier yang satu ini. Aku baru sadar kalo akunnya tuh
berganti-ganti nama usernya, ganti dalam jangka waktu 3-4 minggu setelah aku
order. Ya, ini produknya aku ambil dari Batam.
Kenapa aku ambil produk dari Batam?
Pertama,
karena barangnya yang terkenal murah.
Kedua,
barang yang dijual dari Batam apalagi sisa stok impor itu kualitasnya memang
bagus.
Ketiga,
menawarkan paketan tanpa ongkir kalau beli barang minimal Rp500.000,- sampai
Rp1.000.000,-
Keempat,
sudah banyak testimoni penjualan dari akun bisnis tersebut dan memberikan
kontak nomor Whatsapp agar bisa dihubungi, dikonfirmasi barangnya.
Kelima,
pemilik akun tersebut fast respons dan memberikan foto serta video produk yang
mereka jual.
Keenam,
ada produk yang dijual dengan system PO karena barangnya impor tapi turun harga
sampai 40% karena barang sortiran toko. Barang yang sejenis ini kalau memang
betul dijual, biasanya memang bagus lhoo, kayak thrifting era sekarang yang
cukup banyak diminati anak-anak muda.
Setelah order dan berjalan waktu selama 3 minggu,
bagaimana kondisinya?
Nihil.
Tidak ada info apa-apa. Tidak ada kabar. Tidak ada konfirmasi barang yang di
PO. Tidak ada kabar pengiriman. Dan bener-bener loss contact. Whatsapp dah
enggak aktif padahal minggu sebelumnya masih aktif dan bisa dihubungi. Sampai
udah masuk minggu keempat atau 1 bulan, ternyata instagramnya pun hilang, tapi
aku cek ada satu akun Instagram baru yang sebelumnya aku tuh enggak merasa
follow sama sekali.
Aku
udah curiga banget ini pasti nama akunnya diubah. Terus mereka juga nih ganti
nomor kontak Whatsapp. Dan ku hubungi ternyata beneran nyambung. Pas nyoba
reorder dan ketauan barang yang dijual ternyata memang sama, udah darisitu aku
percaya ini penipuan belanja online yang jauh di sana dengan banderol harga
produk yang jauh lebih murah dari harga pasar.
Ya,
dari cerita aku ini aku harap kalian lebih berhati-hati ya dalam berbelanja
online apalagi ambil supplier dari pulau sebrang yang jauh dan menjual dengan
harga di bawah pasar.
Kenapa mesti berhati-hati?
Karena masih banyak akun-akun bisnis
di berbagai platform social media yang menyajikan demikian. Cara jualan yang
murahan dan modus tipu daya testimoni. Aku rasa itu tidak perlu. Capek bikin
bukti testimoninya karena ujungnya sama dan orang lama-lama juga bakalan notice
kalau mereka ditipu.
Ciri akun jualan kemungkinan penipu yang harus kamu
hindari:
(1)
Jualan
di bawah harga pasar.
(2)
Testimoni
produk mirip atau bahkan sama. Cari celahnya cari apakah itu dari chat
testimoni yang sama atau tidak.
(3)
Nomor
Whatsapp dapat dihubungi kapanpun meskipun di luar jam operasional. Jika hanya
diketahui order by Whatsapp, enggak ada link e-commerce nya, pastikan cek dulu
di GetContact biar lebih praktis ngetes nomor akun itu.
(4)
Posting
testimoni dan barang yang sama tiap hari. Ini perlu diwaspadai ya, akun-akun
yang kayak gini kehabisan ide buat posting dagangan karena emang enggak ada
barang yang dijual.
(5)
Meyakinkan
pembeli dengan berbagai tawaran gratis ongkir, gift, paketan produk + free
produk yang bisa didapat, dan sejenisnya.
(6)
Melakukan
system PO tanpa ada kejelasan waktu kapan barang yang di PO akan tiba.
Yap, itu dia yang bisa ku sharing
tentang pengalaman aku jadi Reseller yang kena tipu sampai jutaan demi bisa
mulai bisnis Reseller sambal sekolah. Setelah transaksi untuk beli produk ini,
beneran deh rasanya seneng banget bisa mulai belajar jualan lhoo.
Tapi, seteah satu bulan kemudian,
rasanya aku harus kembali menghemat uang jajan agar aku bisa makan makanan yang
ku pengen dan tetep bisa beli baju di toko offline yang bagus buat main sama
temen-temen. Fashion enggak harus baru kalo buat main, tapi seenggaknya bisa
punya pakaian yang layak untuk digunain pas event-event tertentu entah di
sekolah ataupun di luar event sekolah.
Sekian cerita dari aku. Bantu support juga ya di YouTube aku, “Ramira Story” https://www.youtube.com/channel/UCL66iKD35l6pQHZYyvRxtDA dan mampir ke Instagrama ku di @rachma_utami. See you…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Share info atau tanya? Tulis di kolom komentar ya..