Perjalanan
Menyenangkan ke Seoul, Korea Selatan Yang
Tak
Terduga-Duga
Cerita ini ditulis untuk mengenang
masa indah yang tak terlupakan sembari berbagi cerita kepada siapa yang mungkin
ingin pergi ke Seoul. Menariknya perjalanan ini sangatlah tidak direncanakan
dengan matang untuk pergi ke sana, karena aku ke sana bukan untuk liburan
semata melainkan pergi untuk belajar budaya dalam rangka event pertukaran
mahasiswa. Aku dari Universitas Indonesia sendiri, sedangkan yang lain dating
dari berbagai universitas dan dari beragam jurusan yang berbeda pula.
Lalu, apakah hanya
mahasiswa dari Indonesia saja kah yang ikut event ini?
Tentu tidak. Saat sudah
sampai di Seoul, aku berkumpul Bersama mahasiswa lainnya dari Nepal dan Jepang.
Totalnya, kami bertiga puluh mahasiswa.
Berapa lama di Seoul?
Kalau dihitung dengan
waktu perjalanan berangkat dan pulang, aku 10 hari. Aku berangkat 2 hari lebih
awal dari jadwal event ini karena ingin eksplor lebih lama di Seoul.
Kapan sih event ini
berlangsung?
Jujur, event ini sudah
lama sekali. Tahun 2018 awal, di akhir Februari – awal Maret, masih musim salju
kala itu.
Musim salju yang indah
di Seoul, bukan?
(GAMBAR KOTA DISELIMUTI
SALJU)
Aku bahkan tidak
terpikirkan sama sekali, event ini akan berada di musim apa. Saat 2 minggu
sebelum keberangkatan, ada pemberitahuan untuk menyiapkan baju yang hangat
sekaligus perlengkapan obat-obatan lainnya.
Untuk aku yang belum
pernah merasakan bagaimana dinginnya musim salju di Korea Selatan, tentu aku
panik tentang pakaian yang seperti apa yang harus aku bawa untuk dipakai di
sana. Coat, sweater, baju/ outer berbahan tebal seperti fleece atau rajut,
sarung tangan, kaus kaki dan sepatu khusus di musim salju.
Banyak banget dong.
Iya banyak banget sampai
makan tempat di koper ukuran 30 inchi. Untungnya belum sampai trip 1 bulan,
jadi masih aman slot koper untuk jajanan Korea Selatan.
Balik ke event dulu
yaa..
Event ini khusus dibuat
untuk belajar Kebudayaan dan Bahasa Korea Selatan, sembari memperkenalkan juga
Kebudayaan dan Bahasa Indonesia. Tentu sangat menarik kan, kami para mahasiswa
dari Indonesia dengan antusias memperkenalkan Batik Indonesia dengan
tari-tarian khas Indonesia lengkap dengan atribut seragam batiknya.
Event ini seru banget
deh, kami berkeliling Seoul seperti ke Namsan Seoul Tower, Myeongdong Street,
Insadong, Gyeongbeokgung Palace, Gangnam, mengunjungi Seoul National
University, dan kami tinggal di Yangpyeong.
(GAMBAR SNU, BAJU
TRADISIONAL KOREA & INDO, NAMSAN SEOUL, PALACE)
Dulu, aku ini enggak
terlalu paham sama yang namanya trend-trend dari Korea lhoo.. paling familiar
aja sama Kpop, Super Junior dan beberapa Drama Korea. Kalau sekarang dah enggak
asing lagi deh sama Korea-Koreaan semenjak BTS mendunia dan jadi booming. Semua
hal dikaitkan dengan Korea-an, pusat fashion melihatnya sekarang ke Korean
Fashion Inspo, makanan khas Korea, hingga rela belajar bahas Korea supaya bisa
ngobrol sama Idol pas fanmeeting.
Buat kalian yang merasa
begitu, tidak masalah kok. Selama itu positif, tidak masalah untuk menyukai
Kebudayaan dan Bahasa dari luar negara kalian, tetapi harus tetap cinta negeri
sendiri ya.
Ceritain perjalanannya
dong dari Indonesia ke Korea, habis berapa banyak biayanya? Apply sponsor juga
kah?
Kayaknya 2 pertanyaan
itu adalah pertanyaan yang [paling sering dilontarkan ke aku. Biaya sebenarnya
relative ya, karena untuk uang saku bener-bener ditanggung sendiri. Bayar untuk
event ini adalah bayar dengan harga yang cukup murah menurut aku.
Penginapan itu sekitar
400.000 won untuk 2 malam 2 orang. Kemudian, makan juga masih relative murah,
seperti; air mineral harganya 1.200-1.500 won, Korean Street Food nya mulai
dari 2000 won, makanan berat bisa sampai 15.000-20.000 won bisa untuk 2 orang
karena porsi aku dan temen aku terbilang kecil, sedangkan itu adalah satu
porsinya orang Korea.
Kimchi dan toppokki ya
jangan dilupakan, pasti selalu ada 2 makanan itu deh. Kalau kalian Muslim,
pastikan sebelum makan, tanyakan terlebih dahulu apakah mereka menyediakan menu
babi atau tidak.
(GAMBAR KIMCHI & TOPPOKKI)
Tips dari aku untuk yang
Muslim biar bisa makan makanan halal, cari restoran vegan food. Mereka biasanya
tidak menyediakan makanan olahan babi ataupun menggunakan minyak babi. Tetapi,
kalian tidak bisa makan seperti ayam atau daging sapi. Kalau misalnya kalian
kurang suka dengan makanan Korea, coba cari makanan-makanan Warung Nusantara
atau Middle East. Ini jauh lebih meyakinkan kalau restoran itu halal.
Balik lagi ya
temen-temen, kalau terpaksa bener-bener laper dan kepepet, bisa langsung ke minimarket,
seperti 7Eleven beli onigiri cari yang isi Tuna Mayo atau Chicken. Bismillah
aja ya temen-temen, halal.
(GAMBAR ONIGIRI)
Nah, yang terpenting
dari semua bentuk pengeluaran adalah Tiket Pesawat dan Visa ya. Visa aku bikin
hampir satu jutaan deh karena aku belum pernah ke luar negeri dan pertama kali
bikin tuh katanya memamng mahal dan agak susah prosesnya. By the way, visa aku
dibantuin urus sama temen aku sekalian sama dia dan temennya urus visa Korea
juga, jadi sekalian biar lebih mudah di accept nya.
Visa yang di apply visa
apa?
Visa turis ya tetep.
Karena bukan ke Korea dengan tujuan untuk belajar di satu universitas tertentu
dalam kurun waktu lebih dari 3 bulan.
Tiket pesawat, apply
sponsor kah?
Aku enggak apply
sponsor, tapi joinan sama temen aku dari beda universitas, alias temen baru
dari peserta event ini untuk cari bantuan tiket yang murah banget atau dibantu
untuk gimana caranya biar bisa Cuma bayar paling enggak 50% dari harga aslinya.
Nah, kebetulan banget,
Alhamdulillahnya, aku dan temenku bisa naik Asiana Airlines pas ke Korea dan
naik Korean Airlines saat balik ke Indonesia dengan harga awal sekitar
Rp8.500.000,-an pertiket untuk sekali keberangkatan, jadi Cuma Rp4.500.000,-
sudah PP (pulang-pergi). Kalian bisa joinan sama temen ya, cari kenalan dulu,
coba networking, dan bilang maksud kalian. Untuk bisa dapetin harga segini,
bener-bener jarang banget, kecuali bisa negosiasi untuk minimal 4 orang dengan
biaya potongan sampai 50%-an gini.
Seru sih kak bisa ke
luar negerio, tapi takut gak sih di tempat baru, kenal orang baru juga. Kenapa
bisa mau aja gitu dan berani ikutan event kayak gini?
Well, pertanyaan ini
juga cukup menarik untuk dijawab. Aku tipe orang yang suka banget ketemu orang
banyak. Dengan ketemu orang banyak, aku bisa punya temen baru, bisa ngobrol
buat bicarakan banyak hal, bukan tentang hal pribadi melainkan sharing tentang
experience life nya orang lain. Kita hidup di dunia in ikan sementara, tapi
selama hidup kita kan juga mengalami banyak lika-liku.
Gimana caranya kitab isa
melalui lika-liku itu dengan beragam orang dan masalah yang tak terduga.
Barangkali, saat aku bertemu dengan orang lain dan sharing our experience life,
aku bisa punya banyak inside tentang masalah yang mungkin terjadi di masa
depan.
Kita enggak akan pernah
tau kejadian seperti apa yang harus kita hadapi. Bisajadi, kita masalah kita
serupa dengan orang yang sebelumnya kita temui dan akhirnya, kita enggak panik
saat masalah itu dating ke kita. Kita bisa dengan lebih santai menghadapi
masalah itu. Bukan menyepelekan, setidaknya kita bisa hadapi dengan kepala
dingin dan memperkirakan risiko seperti apa yang akan kita hadapi.
Hal terpenting dari
semua hal tentang sharing experience life itu, aku berpikir kalau kita enggak
punya banyak waktu untuk bisa belajar banyak hal sendiri sepanjang umur kita.
Terkadang kita perlu belajar dari orang lain yang lebih dulu mengalami
permasalahan tertentu dan membuat diri kita instropeksi diri apakah kita
demikian atau Ketika kita berada dalam masalah yang serupa, kita bisa cari
jalan keluarnya dengan mudah. Serupa ya, serupa bukan berarti sama persis.
Keseruan tantang bertemu
banyak orang dan saling berbagi cerita, itulah yang membuat aku merasa senang
untuk ikut banyak kegiatan yang mengharuskan bertemu langsung dengan orang
lain. Ini membuat energi ku kembali semangat lagi. Capek fisik mungkin iya,
tapi kesempatan mungkin tidak akan datang 2x dan capek fisik bisa diobati
dengan istirahat terlebih dahulu, nanti dilanjutkan kembali.
Sama halnya dengan
keingintahuanku tentang motif orang-orang ingin belajar tentang kebudayaan dan
Bahasa dari negara lain itu apa, mengapa mereka suka traveling, atau mengapa
mereka memilih untuk mengorbankan uang jajannya untuk ke luar negeri demi
mendapatkan pengalaman yang berbeda dari mahasiswa pada umumnya.
Untuk kalian yang tidak
menyukai kegiatan yang mengharuskan bertemu banyak orang, kalian bisa cari tahu
apa yang membuat kalian semangat menjalani hidup ini, terus semangat untuk
melakukan sesuatu meski itu lelah.
Oke sekian dulu cerita
dari aku. Mampir juga yuk ke Channel YouTube aku di “Ramira Story” dan juga
Instagram di @rachma_utami.
See you di next story
aku ya!
#ramirastory
#everythingcanbeastory #memoria
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Share info atau tanya? Tulis di kolom komentar ya..